Monday, May 5, 2014

Fenomena Guru Bersertifikasi

Posted by H.TARMIZI ALFUJUDY On 10:17 AM | 1 comment

 Wong Sangar

Guru, Antara Suara Hati dan Sertifikasi




Dalam sebuah perjalanan dengan bus, saya sempat mencuri-curi dengar percakapan dua orang muda di belakang saya. Mereka adalah pelajar dan ternyata sedang bergosip atau ngrasani gurunya. Mereka menganggap dengan adanya fenomena “sertifikasi” bagi kaum guru sekarang ini justru tidak membuat para guru semakin produktif, tetapi justru membuat kaum guru semakin konsumtif. Singkatnya, untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi tersebut, guru yang “bersertifikat” harus memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya adalah minimal mengajar selama 24 jam dalam satu minggu. Jika tidak memenuhi jumlah tersebut, tunjangan sertifikasi urung diberikan. Dan untuk memenuhinya, terkadang mereka harus mengajar di sekolah lain, dan berharap tunjangannya segera dapat dicairkan. 
Fenomena ini kemudian merefleksikan saya pada profesi saya saat ini, seorang guru swasta yang belum “sertifikasi”, tentang pandangan umum masyarakat akan profesi guru. Profesi guru yang ada saat itu di pandangan masyarakat adalah profesi kelas dua, profesi yang tidak bergengsi. Tidak seperti profesi-profesi lain saat itu seperti polisi, tentara, dokter, atau pegawai bank, masyarakat lebih memandang dengan sebelah mata terhadap profesi guru. Bahkan dalam sebuah kelakar di kalangan masyarakat saat itu, jika ada seseorang yang punya anak perempuan yang susah diatur alias ndableg, maka Si Bapak akan mengancam puterinya dengan menjodohannya dengan seorang guru. 
Di dalam dunia hiburan (yang terkadang mengambil dari kisah nyata) pun, sindiran tentang profesi guru juga ditampilkan. Dalam Film Gie karya Riri Reza, yang diambil dari buku karya Soe Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, juga ditampilkan cuilan adegan tentang profesi guru. Soe Hok Gie, yang saat itu tidak terima karena nilai ulangannya dikurangi oleh gurunya, hanya karena perbedaan pendapat diantara mereka, berniat untuk membuntuti Sang Guru saat pulang sekolah. Gie dan kawan-kawannya berniat untuk mencegat gurunya, kemudian menyelesaikan masalah mereka dengan otot. Tetapi niatnya sirna, ketika melihat kondisi keluarga gurunya. Pria berpakaian putih-putih necis alias parlente tersebut ternyata tinggal di pemukiman kumuh. Dan ketika sampai di rumah, pria tersebut disambut oleh anak istrinya yang berpakaian lusuh. 
Melihat kejadian ini, niat barbar Gie seketika lenyap. Begitu juga dalam Film “Get Married”  yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Sosok guru yang akan dijodohkan untuknya (memerankan tokoh Maemunah yang tomboy), digambarkan sebagai pria culun berkacamata tebal, berbaju korpri, dan bermotor butut. Itu baru dari film, dari lagu-lagu pada jaman itu yang sarat kritik sosial, sosok guru diwakili oleh lagu “Umar Bakri” yang masih banyak diingat orang sampai sekarang. 
Intinya, kaum guru dipandang sebagai kaum intelek yang harus berpenampilan necis, bertugas berat karena harus mencerdaskan anak orang lain (sampai-sampai anaknya sendiri malah tidak sepintar murid orang tuanya), namun hidupnya susah karena gajinya kecil, serta kesejahteraannya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Dan memang kenyataannya memang demikian, sehingga kaum guru sering disebut sebagai “pahlawan tanpa tanda jasa” sekaligus “pahlawan tanpa tanda-tanda”. Jelas saja disebut demikian, karena di dada mereka tidak akan pernah tersemat tanda kecakapan seperti wing para, komando, ataupun airborne. 
Namun kaum guru patut berterima kasih kepada sosok Presiden keempat RI, K.H. Abdurahman Wahid, alias Gus Dur. Pada era Gus Dur, kesejahteraan guru ditingkatkan, sehingga mereka tidak lagi dipandang sebagai warga kelas dua. Dan harus diakui juga (walaupun berat untuk saya kemukakan, tetapi ini adalah fakta), justru di era Presiden SBY derajat kaum guru meningkat berlipat ganda. Karena sejak tahun 2007 mulai diterapkan sistem sertifikasi (yang sebagian saya kutip di awal tulisan ini), para guru yang sebelumnya hanya bisa naik sepeda angin, atau mentok-mentoknya sepeda motor kreditan, sekarang bisa mendapatkan mobil  pribadi yang lebih layak, yang tidak harus membuat mereka mantolan atau ngiyup saat kehujanan. Tetapi syarat-syaratnya tidak mudah (seperti saya kemukkan sebagian di awal tulisan ini).
Akibatnya ternyata luar biasa. Kaum guru sekarang menjadi sederajat dengan dokter. Parameternya sederhana, di universitas-universitas, fakultas keguruan yang dulu menjadi tempat “buangan” justru sekarang menjadi fakultas favorit. Pendaftar di FKIP tingkat persaingannya justru lebih berat disbanding FK. Semua ini gara-gara satu hal, sertifikasi. Dan orang boleh berbangga jika saat ini punya menantu guru. Orang tua berbondong-bondong mendafarkan anaknya untuk kuliah menjadi guru, dengan harapan kelak saat lulus bisa langsung kerja dan dapat tunjangan sertifikasi.
Sistem ini memang baik, tetapi tak semuanya membawa dampak yang baik. Polarisasi di kalangan kaum guru pun semakin meruncing. Jika dulu polarisasi di kalangan guru hanya sebatas di guru negeri-swasta, atau guru tetap-honorer, sekarang bertambah lagi menjadi guru sertifikasi-belum sertifikasi. Yang jadi korban dari semuanya ini pastinya siswa. Karena demi mendapatkan sertifikasi, guru-guru jaman sekarang cenderung mengajar asal-asalan. Sehingga jika ditanya kepada siswa, mereka cenderung untuk lebih memilih diajar oleh guru yang belum bersertifikasi. Karena dalam pandangan para siswa, para guru ini masih “suci”, belum terkontaminasi. Mereka masih menggunakan suara hati dalam mengajar, karena siswa bukanlah benda mati yang dapat diperlakukan dengan sesuka hati.
Para siswa yang haus dan dinamis ini tidak butuh jam atau durasi yang cenderung kaku. Jiwa-jiwa merdeka mereka lebih membutuhkan sentuhan dan dukungan, untuk persiapan perjalanan hidup mereka yang masih sangat panjang. Seperti kata peribahasa latin kuno, Non scholae sed vitae discimus, belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup.
Tulisan ini hanyalah sebuah kritikan sekaligus ajakan bagi para guru. Mari kita gunakan suara hati kita, daripada sertifikasi kita…..
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati…
Terpudjilah wahai engkau, ibu-bapak guru. Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…
Salam
 
http://wong-sangar.blogspot.com

1 comment:

  1. Hati-Hati teman postingan yang mengatasnamakan AGUS SUTIADI itu postingan Penipuan.....!!!!
    Yang hanya bisa di percaya bpk DR HERMAN M.SI

    SUMPAH DEMI ALLAH INI KISAH CERITA SUKSES SAYA JADI PNS


    Assalamu Alaikum wr-wb, mohon maaf sebelum'nya saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS, saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi Pemerintan Manapun, saya sudah 7 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 2 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari tempat saya honor mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-2174-0123 dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk DR. HERMAN. M.SI No beliau selaku direktur aparatur sipil negara di bkn pusat Hp beliau 0853-2174-0123 siapa tau beliau masih bisa membantu anda. Wassalam....

    ReplyDelete

Popular Posts