Guru, Antara Suara Hati dan Sertifikasi
Dalam sebuah perjalanan dengan
bus, saya sempat mencuri-curi dengar percakapan dua orang muda di belakang
saya. Mereka adalah pelajar dan ternyata sedang bergosip atau ngrasani gurunya. Mereka menganggap
dengan adanya fenomena “sertifikasi” bagi kaum guru sekarang ini justru tidak
membuat para guru semakin produktif, tetapi justru membuat kaum guru semakin
konsumtif. Singkatnya, untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi tersebut, guru
yang “bersertifikat” harus memenuhi persyaratan tertentu, salah satunya adalah
minimal mengajar selama 24 jam dalam satu minggu. Jika tidak memenuhi jumlah
tersebut, tunjangan sertifikasi urung diberikan. Dan untuk memenuhinya,
terkadang mereka harus mengajar di sekolah lain, dan berharap tunjangannya
segera dapat dicairkan.
Fenomena ini kemudian
merefleksikan saya pada profesi saya saat ini, seorang guru swasta yang belum “sertifikasi”, tentang
pandangan umum masyarakat akan profesi guru. Profesi guru yang ada saat itu di
pandangan masyarakat adalah profesi kelas dua, profesi yang tidak bergengsi.
Tidak seperti profesi-profesi lain saat itu seperti polisi, tentara, dokter,
atau pegawai bank, masyarakat lebih memandang dengan sebelah mata terhadap
profesi guru. Bahkan dalam sebuah kelakar di kalangan masyarakat saat itu, jika
ada seseorang yang punya anak perempuan yang susah diatur alias ndableg, maka Si Bapak akan mengancam
puterinya dengan menjodohannya dengan seorang guru.
Di dalam dunia hiburan (yang
terkadang mengambil dari kisah nyata) pun, sindiran tentang profesi guru juga
ditampilkan. Dalam Film Gie karya Riri Reza, yang diambil dari buku karya Soe
Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, juga ditampilkan cuilan adegan tentang profesi guru. Soe Hok Gie, yang saat itu
tidak terima karena nilai ulangannya dikurangi oleh gurunya, hanya karena
perbedaan pendapat diantara mereka, berniat untuk membuntuti Sang Guru saat
pulang sekolah. Gie dan kawan-kawannya berniat untuk mencegat gurunya, kemudian
menyelesaikan masalah mereka dengan otot. Tetapi niatnya sirna, ketika melihat
kondisi keluarga gurunya. Pria berpakaian putih-putih necis alias parlente
tersebut ternyata tinggal di pemukiman kumuh. Dan ketika sampai di rumah, pria
tersebut disambut oleh anak istrinya yang berpakaian lusuh.
Melihat kejadian
ini, niat barbar Gie seketika lenyap. Begitu juga dalam Film “Get Married” yang dibintangi oleh Nirina Zubir. Sosok guru
yang akan dijodohkan untuknya (memerankan tokoh Maemunah yang tomboy), digambarkan sebagai pria culun
berkacamata tebal, berbaju korpri, dan bermotor butut. Itu baru dari film, dari
lagu-lagu pada jaman itu yang sarat kritik sosial, sosok guru diwakili oleh
lagu “Umar Bakri” yang masih banyak diingat orang sampai sekarang.
Intinya, kaum
guru dipandang sebagai kaum intelek yang harus berpenampilan necis, bertugas
berat karena harus mencerdaskan anak orang lain (sampai-sampai anaknya sendiri
malah tidak sepintar murid orang tuanya), namun hidupnya susah karena gajinya
kecil, serta kesejahteraannya kurang diperhatikan oleh pemerintah. Dan memang
kenyataannya memang demikian, sehingga kaum guru sering disebut sebagai
“pahlawan tanpa tanda jasa” sekaligus “pahlawan tanpa tanda-tanda”. Jelas saja
disebut demikian, karena di dada mereka tidak akan pernah tersemat tanda kecakapan
seperti wing para, komando, ataupun airborne.
Namun kaum guru
patut berterima kasih kepada sosok Presiden keempat RI, K.H. Abdurahman Wahid,
alias Gus Dur. Pada era Gus Dur, kesejahteraan guru ditingkatkan, sehingga
mereka tidak lagi dipandang sebagai warga kelas dua. Dan harus diakui juga
(walaupun berat untuk saya kemukakan, tetapi ini adalah fakta), justru di era
Presiden SBY derajat kaum guru meningkat berlipat ganda. Karena sejak tahun
2007 mulai diterapkan sistem sertifikasi (yang sebagian saya kutip di awal
tulisan ini), para guru yang sebelumnya hanya bisa naik sepeda angin, atau
mentok-mentoknya sepeda motor kreditan,
sekarang bisa mendapatkan mobil pribadi
yang lebih layak, yang tidak harus membuat mereka mantolan atau ngiyup saat
kehujanan. Tetapi syarat-syaratnya tidak mudah (seperti saya kemukkan sebagian
di awal tulisan ini).
Akibatnya
ternyata luar biasa. Kaum guru sekarang menjadi sederajat dengan dokter.
Parameternya sederhana, di universitas-universitas, fakultas keguruan yang dulu
menjadi tempat “buangan” justru sekarang menjadi fakultas favorit. Pendaftar di
FKIP tingkat persaingannya justru lebih berat disbanding FK. Semua ini
gara-gara satu hal, sertifikasi. Dan orang boleh berbangga jika saat ini punya
menantu guru. Orang tua berbondong-bondong mendafarkan anaknya untuk kuliah
menjadi guru, dengan harapan kelak saat lulus bisa langsung kerja dan dapat
tunjangan sertifikasi.
Sistem ini
memang baik, tetapi tak semuanya membawa dampak yang baik. Polarisasi di
kalangan kaum guru pun semakin meruncing. Jika dulu polarisasi di kalangan guru
hanya sebatas di guru negeri-swasta, atau guru tetap-honorer, sekarang
bertambah lagi menjadi guru sertifikasi-belum sertifikasi. Yang jadi korban
dari semuanya ini pastinya siswa. Karena demi mendapatkan sertifikasi,
guru-guru jaman sekarang cenderung mengajar asal-asalan.
Sehingga jika ditanya kepada siswa, mereka cenderung untuk lebih memilih diajar
oleh guru yang belum bersertifikasi. Karena dalam pandangan para siswa, para
guru ini masih “suci”, belum terkontaminasi. Mereka masih menggunakan suara
hati dalam mengajar, karena siswa bukanlah benda mati yang dapat diperlakukan
dengan sesuka hati.
Para siswa yang
haus dan dinamis ini tidak butuh jam atau durasi yang cenderung kaku. Jiwa-jiwa
merdeka mereka lebih membutuhkan sentuhan dan dukungan, untuk persiapan
perjalanan hidup mereka yang masih sangat panjang. Seperti kata peribahasa
latin kuno, Non scholae sed vitae
discimus, belajar bukan untuk sekolah tetapi untuk hidup.
Tulisan ini hanyalah
sebuah kritikan sekaligus ajakan bagi para guru. Mari kita gunakan suara hati
kita, daripada sertifikasi kita…..
Jadi guru jujur berbakti memang makan hati…
Terpudjilah wahai engkau, ibu-bapak guru.
Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku…
Salam
http://wong-sangar.blogspot.com






Hati-Hati teman postingan yang mengatasnamakan AGUS SUTIADI itu postingan Penipuan.....!!!!
ReplyDeleteYang hanya bisa di percaya bpk DR HERMAN M.SI
SUMPAH DEMI ALLAH INI KISAH CERITA SUKSES SAYA JADI PNS
Assalamu Alaikum wr-wb, mohon maaf sebelum'nya saya ingin mempublikasikan KISAH KESUKSESAN saya menjadi seorang PNS, saya ingin berbagi kesuksesan keseluruh pegawai honorer di instansi Pemerintan Manapun, saya sudah 7 tahun saya jadi tenaga honor belum diangkat jadi PNS Bahkan saya sudah 2 kali mengikuti ujian, dan membayar 70 jt namun hailnya nol uang pun tidak kembali, bahkan saya sempat putus asah, pada suatu hari tempat saya honor mendapat tamu istimewa dari salah seorang pejabat tinggi dari kantor BKN pusat karena saya sendiri mendapat penghargaan pengawai honorer teladan, disinilah awal perkenalan saya dengan beliau, dan secara kebetulan beliau menitipkan nomor hp pribadinya 0853-2174-0123 dan 3 bln kemudian saya pun coba menghubungi beliau dan beliau menyuruh saya mengirim berkas saya melalui email, Satu minggu kemudian saya sudah ada panggilan untuk ujian, alhamdulillah berkat bantuan beliau saya pun bisa lulus dan SK saya akhirnya bisa keluar,dan saya sangat berterimah kasih ke pada beliau dan sudah mau membantu saya, itu adalah kisah nyata dari saya, jika anda ingin seperti saya, anda bisa Hubungi Bpk DR. HERMAN. M.SI No beliau selaku direktur aparatur sipil negara di bkn pusat Hp beliau 0853-2174-0123 siapa tau beliau masih bisa membantu anda. Wassalam....